Satpol PP Jaring Tujuh Praktek Prostitusi, Satu Di Antaranya PNS

bfb3a315-5397-4930-bafa-507fbcdf21bc

Mojokerto (Realitamasyarakat) – Satpol PP dengan Denpom, Garnisun, Kodim, Polresta, KPPA, dan Dinsos melakukan razia gabungan lanjutan bebas praktik prostitusi. Hasilnya, razia tersebut berhasil menciduk tujuh orang dan satu di antaranya PNS.

Razia tersebut adalah razia lanjutan dari razia yang dahulu, Satpol PP memcurigai adanya indikasi ajang praktek prostitusi, hal ini tak henti-hentinya menggencarkan razia mesum di tempat-tempat tersebut dan warung remang-remang yang membandel akan dibongkar paksa.

Rabu (23/11) ada tiga titik sasaran razia sejumlah hotel dan eks lokalisasi Balong Cangkring (BC). Hasilnya, seorang PSK di sebuah warung remang-remang di Balong Cangkring dan dua pasangan mesum di Hotel Slamet jalan PB. Sudirman diangkut ke kantor Satpol PP Kota Mojokerto di Jalan Bhayangkara.

Bukan hanya itu, Kamis (24/11) siang, empat wanita penghibur juga digaruk dari dua warung Warung remang-remang di Jalan By Pass. Mereka adalah Lt (43) warga Sumberpetung Kalipare, Malang, YR (34) warga Jalan Karimun Jawa Pare, RP (35) warga Blimbing Sari Sooko Mojokerto, dan SM (39) warga Jalan Jatisari Pepelegi Waru Sidoarjo.

Sedang mereka yang tertangkap di warung Jalan By Pass akan dipanggil pemilik warungnya. Sebelumnya pemilik warung sudah pernah dipanggil dengan kasus yang sama dan sudah menandatangani pernyataan tidak akan menyediakan wanita penghibur. Kepala TU Satpol-PP, Imam Susadi, mengatakan, “Ternyata sekarang terbukti masih menyediakan wanita penghibur,” imbuhnya.

Konsekuensinya, warung liar yang mereka tempati harus dibongkar. “Kita panggil pemilik warung. Kita beri waktu dua hari untuk membongkar sendiri warungnya. Jika dalam waktu dua hari tidak membongkar, maka akan kita bongkar paksa,” tandasnya.

Sedangkan untuk Hotel Slamet di Jalan Panglima Sudirman, pihak manajemen hotel juga akan dipanggil. “Hotel Slamet akan kita beri teguran keras karena secara terbuka menyediakan kamar untuk dijadikan tempat mesum. Tanpa selektif menerima tamu. Jika kemudian hari masih membandel, izinnya kita cabut,” tegasnya.

(Gon)

Lagi, Delapan Siswa Bolos Terjaring

4354ec69-a5bd-4bb8-8aa0-a9792ca3434c

Mojokerto (Realitamasyarakat) – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) kota Mojokerto Terus getol mencegah kenakalan remaja Dan sasarannya di daerah-daerah adalah Tempat tongkrongan Siswa bolos, Kali Penyanyi ADA Delapan Siswa terjaring di Saat melakukan Patroli rutin.

Awalnya, Satpol-PP melakukan Patroli rutin Ke Tempat Sasaran Yang di Duga sebagai ajang Siswa nongkrong PADA Saat jam Pelajaran sekolah berlangsung. Mereka di ciduk di Gelora A. Yani, Taman Kehati, Dan Pulorejo. Senin (21/11/2016)

 0df2f10e-badc-4914-b9db-a37b40e5f00d

Terbukti, Kali Penyanyi shalat Satu Siswa tersebut membawa Rokok, Siswa Kali Yang di ciduk Tujuh laki-laki Dan Satu Perempuan, mereka Bernama (inisial) yakni UD, AS, MRR, AF, AS, MA, S, Dan MZ. Mereka Dari sekolah di daerah adalah kota Mojokerto Dan kabupaten Sidoarjo.

Kepala Seksi Penegakan perundang-undangan Daerah, Sugiono, mengatakan, “ya, HAL Penyanyi mereka has melanggar Perwalian Mojokerto Nomor 17 Tahun 2009 TENTANG Wajib belajar Dua Belas Tahun”, Katanya.

“Mereka di tangkap Saat merokok di jam Pelajaran sekolah, Dan mereka Saya akan Suruh membuat surat pernyataan bertuliskan tidak akan mengulangi Perbuatan Penyanyi Lagi Dan Dari parties orangutan tua, sekolah kitd Panggil Dan kitd mintai Keterangan, Lalu kitd serahkan Lagi Ke Balai Konseling Dan sekolah”, lanjutnya .

(Gon)

Polda Jatim Ciduk 2 Pelaku Hacker

IMG_20160602_31544

Mojokerto (Realitamasyarakat) – Ditreskrim Polda Jatim menciduk 2 Pelaku pengobok-obok milik Pemkot Mojokerto website

www.mojokertokota.go.id, akhirnya website tersebut jadi rusak dan pelaku tersebut dikabarkan sakit hati dengan pejabat Pemkot.

Press release tersebut dihadiri Kabiro Humas Polda, Kapolresta, Kasat Reskrim, dan Walikota Mojokerto.

Walikota Mojokerto, Mas’ud Yunus menyaksikan langsung press release tindak pidana peretasan (hacking) situs resmi Pemkot Mojokerto oleh Polda Jatim di Mapolresta Mojokerto, Rabu (1/6/2016).

“Tersangka CH (19) yang berstatus mahasiswa, warga kelurahan Wonokusumo, Kecamatan Semampir, Surabaya ditangkap di Perum De”Adisucipto Residence, Kecamatan Blimbing, Kota Malang bersama tersangka  ZA (32), wartawan yang beralamat di Wonomulyo, Poncokusumo Malang, tanggal 27 Mei sekira pukul 01:30 WIB,” terang Kabiro Humas Polda Jatim, Kombes Pol. R.P. Argo Yuwono, S.I.K, Ms.I.

Menurut Argo, tersangka ZA mengaku mengobok-obok situs resmi lantaran sakit hati. ZA yang melayani pengadaan barang Pemkot Mojokerto berupa mebeler   senilai Rp 79 juta hanya menerima pembayaran sebagian saja dan hingga sekarang belum menerima pelunasan. Pemkot beralasan, barang yang diterima tidak sesuai spesifikasi.

ZA pun berulah dengan meminta CR melakukan peretasan situs resmi Pemkot Mojokerto. Tanggal 23 Maret 2016 lalu CR melakukan peretasan dengan mengubah tampilan yang didominasi warna hitam. Dipampangkan meme serta tulisan yang menyudutkan tiga pejabat pemkot.

Sejumlah barang, antara lain 3 lembar print out capture website yang sudah diubah tampilannya, 1 unit modem internet, 1 unit laptop merk Lenovo, 1 buah HP Apple 6 dan 1 buah papan white board disita dari tangan kedua tersangka untuk dijadikan barang bukti.

“Selain menyidik tersangka, sejumlah saksi sudah kami mintai keterangan terkait cyber crime ini,” imbuhnya.

Namun demikian Argo enggan membeber lebih jauh ikhwal pengungkapan kasus yang menyeret nama walikota dan beberapa pejabat Pemkot Mojokerto tersebut.

“Itu tekhnis pengungkapan,” sergah Argo.

Yang pasti, lanjut Argo, penyidikan kasus ini masih berlanjut. “Masih kita kembangkan. Termasuk pengakuan tersangka CH yang menyebut baru pertama kali melakukan peretasan,” sergahnya.

Pun soal nama dan jabatan saksi dari PNS Pemkot, Argo enggan menyebut. “Sudah dua orang (PNS Pemkot Mojokerto),” ujarnya.

Ia menyebut, tidak tertutup kemungkinan jumlah tersangka bertambah. Mengingat data yang dipampangkan di laman yang sudah diobok-obok itu hanya bisa diakses secara khusus.

Kedua tersangka, ujarnya, dijerat UU No.11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, pasal 30 ayat 1 dan ayat 3 Jo pasal 46 ayat 3 dengan ancaman hukuman pidana 8 tahun dan atau denda paling banyak Rp 800 juta.

Sementara itu Walikota Mojokerto Mas’ud Yunus menyatakan apresiasinya terhadap kerja aparat polisi yang mampu mengungkap kasus tersebut.

“Saya bersyukur kasus peretasan ini bisa diungkap polisi dalam waktu yang tidak lama,” katanya.

Jika pun ada PNS yang terlibat kasus ini, ia menyatakan akan menyerahkan sepenuhnya kepada polisi.

“Kami percayakan sepenuhnya kasus ini pada polisi, termasuk jika terbukti ada PNS yang terlibat,” tandasnya.

Agar dikemudian hari tidak muncul kasus serupa, ucap walikota, sistem pengamanan situs diperketat.

(Gon)

Kejari Pelototi Gratifikasi Graha Poppy

Kasi Intel Oktario Hutapea, Kejaksaan Negeri Mojokerto
Kasi Intel Oktario Hutapea, Kejaksaan Negeri Mojokerto

Mojokerto (Realitamasyarakat) – Keterkaitan laporan gabungan LSM Aliansi Rakyat Mojokerto Bersatu (ARMB) dengan adanya dugaan gratifikasi Cafe n Karaoke Graha Poppy (GP) mendapat apresiasi dari Korp Satya Adhi Wicaksana ini.

Laporan ARMB saat ini masih pendalaman dari pihak Kejari, Kasi Intel Oktario Hutapea mengatakan “Semua laporan yang masuk di kejaksaan pasti ditindaklanjuti, tidak terkecuali laporan dari LSM. Apalagi konflik Graha Poppy dengan warga sekitar sudah menjadi pembicaraan hangat masyarakat Mojokerto khususnya,” ujar saat ditemui di kantornya Jalan RA Basuni, Kamis (26/5).

ARMB melaporkan ke kejaksaan dengan alasan Pemkot Mojokerto tidak segera menutup Graha Poppy padahal sudah jelas ditemukan adanya pelanggaran yang dilakukan Graha Poppy. Adanya pelanggaran dibuktikan dengan adanya surat peringatan dari Satpol PP.

Pelanggaran lain, keberadaan Graha Poppy tidak sesuai Perda RTRW. “Kejaksaan sedang mendalami laporan ARMB,” tandas Oktario.

Pendalaman yang dimaksud, saat ini kejaksaan sedang mengumpulkan data dan alat bukti. Bahkan jika diperlukan akan melakukan pemanggilan terhadap pihak-pihak terkait. “Banyak hal yang dilakukan dalam melakukan pendalaman. Jika ada alat bukti yang kuat, tentu akan diproses,” katanya.

Terpisah, Koordinator ARMB, Muhammad Mustofa mengatakan, pihaknya mengapresiasi pihak kejaksaan yang segera menindaklanjuti laporan ARMB. “Kita memang berharap kejaksaan segera melakukan penyelidikan. Lebih-lebih kasus ini statusnya ditingkatkan menjadi penyidikan,” harapnya.

ARMB meyakini adanya praktik gratifikasi yang dilakukan pihak Graha Poppy supaya usaha karaokenya tidak ditutup. “Kita berharap dalam waktu yang tidak lama sudah ada jawaban dari pihak kejaksaan. Kami sangat yakin ada gratifikasi kepada pihak-pihak terkait,” ujar Mustofa.

Seperti diketahui, Jumat (20/5) Aliansi Rakyat Mojokerto Bersatu (ARMB) melapor ke Kejaksaan Negeri Mojokerto terkait konflik yang terjadi antara Cafe n Karaoke Graha Poppy di Jalan Randu Gede Kota Mojokerto versus warga sekitar.

Dalam laporannya ARMB menilai pejabat Pemkot Mojokerto masuk angin atau menerima gratifikasi. Alasannya, sudah jelas Graha Poppy melanggar Perda Kota Kojokerto No. 13 Tahun 2013 tentang Ketertiban Umum dimana hiburan malam diharuskan tutup jam 24.00 WIB dan Perda Kota Mojokerto No. 4 Tahun 2012 tentang RTRW pasal 17 ayat 3 yang berbunyi, keperuntukan wilayah Kelurahan Kedundung dengan kegiatan utama: perkantoran, industri, pendidikan, dan perumahan, namun hingga saat ini masih belum ditutup.

(Gon)

Dianiaya, Pelaku Terbirit Birit

unnamed (1)

Mojokerto (Realitamasyarakat) – Hati-hati jika anda berkendaraan sendirian ditengah jalan bisa bisa petaka akan datang secara tiba tiba,

Salah satu contoh, mahasiswa Unimas bernama Anisatul Jalis (23) warga Gedeg Kabupaten Mojokerto yang mengaku pada Realitamasyarakat.com yang jadi korban penganiayaan. Rabu (29/7/2015)

Kronologisnya Anis habis pulang menemui dosennya di Mojosari, sampai jalan Pageruyung kawasan yang agak sepi tiba-tiba ada pengendara motor yang berplat L 3636 MA mencoba memukul punggung korban menyuruhnya untuk berhenti. Korban melawan dengan berteriak minta tolong, teriakan itu didengar oleh pengendara motor dari timur, Dengan ketakutan pelaku langsung melarikan diri.

Anis mengaku, menduga pelaku mencoba akan membegal motornya, “orang tersebut diperkirakan berumur 40 tahun ke atas, dia memukul dada saya” ujarnya.

Kejadian tersebut ditangani ke Polsek gedeg

(Gon)

Bulan Ramadhan, Satpol PP jaring HoHiHek Hotel

IMG_20150630_47571

Mojokerto (Realitamasyarakat) – Beberapa kali Satpol PP kota Mojokerto menjaring razia penyakit masyarakat atau pekat dibulan ramadhan, hasilnya 6 pasang terdapat mesum tertangkap di hotel.

Mereka kedapatan dikamar berduaan akan tetapi mereka tidak dapat membuktikan pasangan suami istri. Masing kedapat hotel Tegalsari jalan Raden Wijaya dan naga mas

Kepala Satpol PP Kota Mojokerto, Mashudi mengatakan, razia yang dilakukan pihaknya menyasar empat hotel yang terindikasi tak selektif menerima tamu hotel. Namun penyisiran di dua hotel lainnya, yakni Hotel Asri dan Hotel Sekar Putih, keduanya berlokasi di jalan Bypass, tim gabungan tidak mendapati pasangan mesum.

’’Tentunya, tidak berhenti di empat hotel ini saja. Hotel lain tetap akan kita lakukan penyisiran kalau memang ditemukan indikasi itu,’’ terangnya.

Menurutnya, razia digelar untuk menciptakan kondusifitas di Kota Mojokerto selama ramadhan. “Razia ini akan terus dilakukan selama ramadhan agar Kota Mojokerto tetap kondusif,” sergahnya.

Sementara itu, dari pendataan petugas, diketahui perempuan yang terjaring razia di bulan ramadhan ini berprofesi sebagai sales promotion girl (SPG).

Dua SPG bersama pasangannya diamankan di Hotel Naga Mas, Jalan Pahlawan. Sedang empat pasangan lainnya, dua diantaranya juga SPG, digelandang dari Hotel Tegal Sari, jalan Raden Wijaya.

Mereka datang dari sejumlah kota. Diantaranya Krian Sidoarjo, Jombang dan Lamongan.

Usai didata, enam pasangan mesum itu diminta membuat surat pernyataan tidak mengulangi perbuatan mereka.’’Kalau sampai mengulang, tentunya tidak hanya kita tegur saja. pasti akan kita sidangkan ke pengadilan,’’ imbuh Mashudi.

(Gon)

 

BPOM Dan DKK Temukan Krupuk Berformalin dan Pewarna

IMG_20150626_21249

Mojokerto (Realitamasyarakat) – Saat menjelang ramadhan khususnya umat muslim, waspadalah terhadap makanan dan minuman atau mamin untuk membeli disekitar.

Badan Pemeriksa Obat dan Makanan (BPOM) Jatim dan Dinas Kesehatan Kota (DKK) Mojokerto sudah mengantongi hasil temuan dari beberapa puluhan jajan pasar ataupun takjil yang mengandung formalin dan pewarna. Kamis (25/6/2015)

Dari temuan tersebut, Denik prasetyawati petugas BPOM mengatakan “salah satunya krupuk upil yang terkandung campuran roda min atau pewarna tekstil dan krupuk bawang terkandung adanya unsur formalin atau borak, keduanya unsur tersebut jika dikonsumsi manusia terus menerus bisa menyebabkan penyakit Kunker.” ujarnya

Setelah hasil temuan tersebut dari Dinkes Khusmulyati di bidang farmasi makanan dan minuman mengatakan “kami akan mengajak Diskoperindag dan Polresta akan melakukan pembinaan terhadap pengusaha produksi mamin terkontaminasi ini, jika mereka membandel kita serahkan pada pihak polresta”. tegasnya

Semua temuan mamin tersebut dibeli dari Pasar Tanjung Anyar dan Jalan Benteng Pancasila kota Mojokerto.

(Gon)

Lagi, Satpol PP Kembali Temukan Pasangan Mesum Satu Kamar

Pasangan Mesum saat dilakukan penyidikan
Pasangan Mesum saat di intrograsi oleh penyidik

Mojokerto (Realitamasyarakat) – Belum satu minggu Satuan Polisi Pamong Praja Kota Mojokerto temukan pasangan mesum dikos, eh… Satpol PP  kembali  menggelendeng satu pasangan muda-mudi satu kos didalam kamar. Senin (18/5/2015)

Korban pasangan tersebut bernama ER (19 tahun) asal kabupaten Mojokerto dan AD (18 tahun) asal Madiun, AD yang mengaku baru lulus pelajar SMK ini berprofesi dari salah satu tempat hiburan karaoke Graha yang di Mojokerto.

Pada saat pukul 09.30 Wib, Satpol dengan pihak kelurahan juga babinsa melakukan pendataan perizinan kost-kostan didaerah Panggreman, Petugas menemukan dugaan satu pasangan mesum didalam kamar pintu tertutup rapat. Keduanya tidak bisa berkilah dan pelaku langsung ditangkap dan digelendeng kekantor Satpol PP.

Sihombing dari penyidik mengatakan “adanya indikasi pelaku wanita ini adalah berprofesi purel atau pemandu wisata, mereka juga bukan pasangan suami istri.” Ujarnya

Hal dipertegas lagi oleh Kasatpol PP Agus Supriyanto ” Selanjutnya akan dilakukan pendataan kos-kosan yang ada di Kota Mojokerto. Setelah pendataan nanti sewaktu-waktu akan dilakukan razia ke tempat kos – kosan tersebut untuk menghindari kasus asusila sesuai Perda Nomor 3 Tahun 2013 tentang ketertiban umum itu kepada pemilik kos. ” ujar

Agus pun berharap aparat desa dan warga bekerja sama menjaga lingkungan sekitar. Bila ada penghuni kos yang mencurigakan atau mengganggu ketertiban, Agus berharap warga segera melapor ke pemerintah.

“Lebih meningkatkan pengamanan dan pengawasan terhadap penghuni kosan atau warga pendatang. Jika memang menyalahi aturan harus segera dilaporkan,”imbuhnya

Agus juga memanggil orang tua untuk dibina secara khusus pada anaknya, “karena itu adalah tindakan asusila dan dibuatnya surat pernyataan agar tidak mengulangi lagi jika tertangkap lagi dalam kasus yang sama akan kami limpahkan ke kepolisian”. lanjutnya

(Gon)

 

Mahasiswa Gelar Aksi Hari Bumi

Aksi Mahasiswa Di Depan Pemkot Mojokerto
Aksi Mahasiswa Di Depan Pemkot Mojokerto

Mojokerto (Realitamasyarakat)– Rabu tanggal 22 April 2015 adalah Hari bumi, Mahasiswa dari Mayjen Sungkono menggelar aksi untuk untuk kebersihan dan tidak adanya pengrusakan terhadap lingkungan.

Seruan yang dikemas dalam aksi bentang spanduk dan orasi di depan perkantoran Pemkot Mojokerto di jalan Gajahmada Kota Mojokerto dijaga ketat puluhan aparat kepolisian setempat.

“Kami menuntut tindakan nyata Pemkot dan Pemkab Mojokerto atas timbulnya polusi udara dari limbah pabrik dan penambangan galian C yang tidak menyertakan klausul reklamasi,” lontar Lukman Arif, koordinator aksi.

Selama ini, kata Lukman, pemerintah daerah justru menjadi gerbang timbulnya dampak industri dan rusaknya lingkungan akibat penambangan galian C.

“Banyaknya industri di Mojokerto Kota dan Kabupaten telah menyebabkan dampak berupa pencemaran lingkungan seperti bau dan limbah sehingga membuat air tercemar,” tandas dia.

Demikian juga dengan pemberian ijin kepada perusahaan-perusahaan pertambangan, lanjut dia, pihak perijinan tidak menyertakan klausul reklamasi. “Sehingga meninggalkan dampak kerusakan lingkungan mematikan mata air,” cetusnya.

Aksi mereka hanya digelar di jalanan, lantaran upaya untuk menyampaikan aspirasi ke pejabat setempat kandas. Akses utama di perkantoran Pemkot ditutup rapat.

(Gon)

TUNTUT KENAIKAN TUNJANGAN , KADES DAN PERANGKAT se-SIDOARJO ANCAM BOIKOT “TIDAK SETOR PBB”

Sidoarjo (Realita) – Ribuan Perangkat dan Kepala Desa (Kades) se- Kabupaten Sidoarjo melakukan aksi unjuk rasa di depan pendopo Delta Wibawa Sidoarjo, Selasa (10/3) kemarin.
Sebelumnya mereka start dan berkumpul di depan Lapas kelas II Sidoarjo dan dilanjutkan dengan melakukan longmarch dari jalan Sultan Agung menuju pendopo Delta Wibawa.
Setelah didepan gerbang, mereka melakukan orasi secara bergantian untuk menuntut hak-hak mereka yang selama ini belum direalisasikan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo.
Dalam aksi unjuk rasa tersebut para kades beserta perangkat menuntut bahwa Tanah Kas Desa (TKD) pengelolaannya harus dikembalikan ke Desa, Pejabat Sementara (Pjs) Kades harus dijabat oleh Pegawai Negeri Sipil (PNS) dari desa setempat.
Selain itu ribuan perangkat dan kepala desa juga menuntut Penghasilan perangkat dan Kades harus sesuai dengan Upah Minimum Kabupaten (UMK) Sidoarjo, serta penanganan banjir secara cepat dan tepat termasuk perbaikan infrastuktur di desa desa agar segera diwujudkan.
Koordinator kepala desa se-Sidoarjo H. Supriyadi( kades Trosobo) kecamatan Taman Sidoarjo mengatakan bahwa sudah tiga bulan ini Pemkab Sidoarjo belum merealisasikan tuntutan mereka, terutama untuk tunjangan perangkat dan Kades, yaitu sejak bulan Januari, hingga Maret 2015.
“Apabila semua tuntutan ini tidak segera direalisasikan, kami tidak akan mendukung beliau jadi Bupati Sidoarjo lagi,” ungkapnya.
Menurut Supriyadi bahwa Kabupaten Sidoarjo mendapatkan Piala Adipura tidak lepas dari jerih payah dari semua perangkat dan Kades se Kabupaten Sidoarjo.
“Kalau tuntutan kami ini tidak segera dikabulkan, maka kami akan boikot dengan tidak menyetorkan PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) kepada Pemkab,” kecamnya.
Sebab, lanjut Supriyadi dengan gaji dan tunjangan yang selama ini diterima dirasa sangat minim dan masih jauh dari kelayakan sehingga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
“Kami berharap, Bapak Bupati Sidoarjo memperhatikan nasib para Kepala Desa, terutama perangkat desa. Kasihan mereka, untuk kebutuhan hidup keluarganya sangat pas-pasan”, tandasnya.(pra)